TINJAUAN HUKUM ISLAM MENGENAI DEPOSITO

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang Masalah

……وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا…….

“..Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”  (QS. Al-Baqarah :275).

Tentunya kita telah sangat paham dengan dalil Qur’an surat al-Baqarah di atas, yang menyatakan bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Riba sendiri memang cukup lekat dengan kebiasaan masyarakat, menguntungkan salah satu pihak memang, namun merugikan pihak yang lain dalam sebuah transaksi, maka dari itu Allah mengharamkannya. Namun dalam praktiknya, menghindari riba sangat memerlukan kejelian, karena terkadang riba tak tampak secara jelas, atau dengan kata lain, riba yang terselubung. Contoh yang umum untuk riba yang tak tampak  adalah riba yang ditutupi dengan dalih jasa, bunga, dan lain sebagainya.

Hal inilah yang menjadikan masyarakat bimbang dewasa ini. Dengan mengetahui riba dan hukumnya masyarakat merasa resah, terlebih dengan adanya kontroversi mengenai bunga bank. Beberapa pihak menganggap bunga bank halal, namun ada pihak lain yang menganggap bahwa bunga bank termasuk riba, di sisi lain, jika kita tilik kehidupan masusia saat ini, rasa-rasanya sulit untuk terlepas dengan bank dan jasa di dalamnya.

Secara umum, bank adalah lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama, yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan memberikan jasa pengiriman uang. Bukan hanya sebagai penyalur dana, akan tetapi fungsi bank juga sebagai lembaga penghimpun dana dari masyarakat, di mana penghimpunan dana tersebut dapat berbentuk giro, tabungan, dan deposito.

Salah satu jasa yang ditawarkan oleh bank adalah deposito.  deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian antara nasabah dengan bank. Melihat jasa yang ditawarkan bank, dan jaminan keamanan di dalamnya, tentu saja masyarakat sangat tertarik untuk mendepositokan uang mereka. Namun di sisi lain, dengan diketahuinya riba dan hukumnya serta keraguan di dalam bunga bank, menjadikan masyarakat butuh akan solusi.

 

Pokok PermasalahanBagaimanakah hukum deposito menurut Islam?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

Bank di Indonesia

Seperti yang telah dipaparkan dalam pendahuluan, bahwasannya masyarakat, dapat dikatakan sangat bergantung dengan jasa bank, karena ia merupakan salah satu urat nadi perekonomian sebuah negara, tanpa Bank, bisa kita bayangkan bagaimana kita sulitnya menyimpan dan mengirimkan uang, memperoleh tambahan modal usaha atau melakukan transaksi perdagangan Internasional secara efektif dan aman. Namun di sisi lainnya, riba dan kontroversi mengenai bunga bank, menjadikan masyarakat membutuhkan solusi. Solusi yang telah hadir dalam hal ini adalah didirikannya bank syari’ah.

Dapat dikatakan saat ini di Indonesia terdapat Bank Konvensional dan Bank Syari’ah. Tentu saja di antara keduanya terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaan dari kedua bank tersebut adalah dalam hal sisi teknis penerimaan uang, persamaan dalam hal mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan maupun dalam hal syarat-syarat umum untuk mendapat pembiayaan seperti, KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan dan sebagainya. Dalam hal persamaan ini semua kegiatan yang dijalankan pada Bank Syariah sama persis dengan yang dijalankan pada Bank Konvensional, dan nyaris tidak ada bedanya.

Selanjutnya, mengenai perbedaannya, yang pertama tentang akad dan legalitas, yang merupakan kunci utama yang membedakan antara bank syariah dan bank konvensional. “innamal a’malu bin niat”, sesungguhnya setiap amalan itu bergantung dari niatnya. Dan dalam hal ini bergantung dari aqadnya. Perbedaannya untuk aqad-aqad yang berlangsung pada bank syariah ini hanya aqad yang halal, seperti bagi hasil, jual beli atau sewa – menyewa. Tidak ada unsur riba’ dalam bank syariah ini, justru menerapkan sistem bagi hasil dari keuntungan jasa atas transaksi riil. Perbedaan selanjutnya yaitu dalam hal struktur organisasi bank. Dalam bank syariah ada keharusan untuk memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam struktur organisasinya. DPS ini bertugas untuk mengawasi operasional bank dan produk-produknya agar sesuai dengan garis-garis syariah, sedangkan bank konvensional tidak. Kemudian perbedaan lainnya adalah pada lingkungan kerja Bank Syariah. Ketika kita memasuki kantor bank syari’ah ada nuansa tersendiri. Nuansa yang diciptakan untuk lebih bernuansa islami. Mulai dari cara berpakaian, beretika dan bertingkahlaku dari para karyawannya. Nuansa yang dirasakan memang berbeda, lebih sejuk dan lebih islami.

Perbedaan utama yang paling mencolok antara Bank Syariah dan Bank Konvensional yakni pembagian keuntungan. Bank Konvensional sepenuhnya menerapkan sistem bunga atau riba. Hal ini karena kontrak yang dilakukan bank sebagai mediator penabung dengan peminjam dilakukan dengan penetapan bunga. Karena nasabah telah mempercayakan dananya, maka bank harus menjamin pengembalian pokok beserta bunganya. Selanjutnya keuntungan bank adalah selisih bunga antara bunga tabungan dengan bunga pinjaman. Jadi para penabung mendapatkan keuntungan dari bunga tanpa keterlibatan langsung dalam usaha. Demikian juga pihak bank tak ikut merasakan untung rugi usaha tersebut.

Bank syariah adalah bank yang menjalankan bisnis perbankan dengan menganut sistem syariah yang berbasis hukum Islam. Inti sitem syariah ini sebenarnya adalah menghindarkan dari riba, karena di Islam semua bentuk riba adalah haram. Bank syariah tidak menerapkan sistem bunga tetapi menerapkan sistem bagi hasil. Perhitungan bagi hasil didasarkan pada mufakat pihak bank bersama nasabah yang menginvestasikan dananya di bank syariah. Besarnya hak nasabah terhadap banknya dalam perhitungan bagi hasil tersebut, di tetapkan dengan sebuah angka ratio atau besaran bagian yang disebut Nisbah.

 

 

 

 

 

Pengertian Deposito

Berdasarkan undang-undang nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang perbankkan, yang dimaksud deposito berjangka adalah simpanan yang penarikannya hanya bisa dilakukan pada waktu-waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpan dengan bank yang bersangkutan.[1] Sedangkan yang dimaksud dengan deposito syari’ah adalah deposito yang dijalankan berdasarkan prinsip syari’ah. Dalam hal ini dewan syari’ah nasional MUI telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa deposito yang dibenarkan adalah deposito yang berdasarkan prinsip mudharabah[2].  Menurut BI dalam kodifikasi produk perbankan syariah, disebutkan bahwa deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian antara nasabah dengan bank dengan sistem akad yang disebut mudharabah. Mudharabah sendiri berarti akad transaksi penanaman dana dari pemilik dana (shahibul maal) kepada pengelola dana (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha tertentu yang sesuai syariah, dengan pembagian hasil usaha antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya.

Misal, A memiliki deposito di bank syariah sebesar Rp 10 juta dengan Nisbah bagi hasil Nasabah : bank = 70 : 30, dan jangka waktu deposito 1 bulan. Maka pada akhir jangka waktu simpanan, bank akan membagi keuntungannya sesuai nisbah dimana 70% didapatkan nasabah, dan 30% didapatkan oleh bank. Dengan demikian bisa di lihat sistem bagi hasil ini lebih adil, karena jika 70:30 ini merupakan prosentase dari keuntungan dana kelolaan bank, maka ketika keuntungan bank kecil, kecil pulalah bagian hasil untuk nasabah, dan ketika keuntungan bank naik maka naik pula bagi hasil untuk nasabah.

Penarikan deposito hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian antara nasabah pemilik dana (Shahibil Maal) dengan bank (Mudharib) sebagai pengelola dana. Pembagian hasil sesuai dengan nisbah yang telah disepakati bersama, namun bank sebagai mudharib tidak menjamin dana nasabah kecuali diatur lain dalam perundang-undangan yang berlaku.[3]

Saat ini semua simpanan masyarakat di perbankan syariah juga dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) . Dengan demikian tabungan sampai 2 Milyar akan aman disimpan di Bank syariah sebagaimana disimpan di bank konvensional lainnya.

Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank syari’ah dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah serta mengembangkannya, termasuk melakukan akadmudharabah dengan pihak ketiga. Dengan demikian, bank syari’ah dalam kapasitasnya sebagai mudharibmemiliki sifat sebagai seorang wali amanah (trustee), yakni harus berhati-hati atau bijaksana serta beri’tikad baik dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang timbul akibat kesalahan atau kelalaiannya. Disamping itu, bank syari’ah juga bertindak sebagai kuasa dari usaha bisnis pemilik dana yang diharapkan dapat memperoleh keuntungan seoptimal mungkin tanpa melanggar berbagai aturan syari’ah.

Dari hasil pengelolaan dana mudharabah, bank syari’ah akan membagi hasilkan kepada pemilik dana sesuai dengan nisbah yang telah disepakati dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. Dalam mengelola dana tersebut bank tidak bertanggungjawab terhadap kerugian yang bukan disebabkan oleh kelalaiannya. Namun, apabila yang terjadi adalah mismanagement (salah urus), bank bertanggung jawab penuh terhadap kerugian tersebut.[4]

 

 

 

Deposito Menurut Pandangan Islam

Ekonomi/perbankkan merupakan kajian muamalah, maka Nabi Muhammad SAW. tentunya tidak memberikan aturan-aturan yang rinci mengenai masalah ini. Al-Qur’an dan As-Sunnah hanya memberikan prinsip-prinsip dan filosofi dasar, dan menegaskan larangan-larangan yang harus dijauhi. Dengan demikian yang harus dilakukan hanyalah mengidentifikasi hal-hal yang dilarang oleh Islam. Selain itu, semua diperbolehkan dan kita dapat melakukan inovasi dan kreatifitas sebanyak mungkin[5].

Dalam hal perbankkan dan produknya, salah satunya yaitu titipan dan deposito, pada dasarnya telah dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW. Sebagai contoh pada saat Nabi SAW dipercaya masyarakat Mekah menerima simpanan harta, sehingga pada saat terakhir sebelum hijrah ke Madinah, Nabi meminta kepada Ali bin Abi Thalib untuk mengembalikan semua titipan tersebut kepada para pemiliknya.

Selain itu, Menabung adalah tindakan yang dianjurkan dalam Islam, karena dengan menabung berarti seorang muslim mempersiapkan diri untuk pelaksanaan masa yang akan datang sekaligus untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebagaimana Allah berfirman  dalam surat al-Hasyr ayat 18 sebagai berikut:

١٨. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S al-Hasyr: 18)

Selain itu Allah berfirman didalam Al-Qur’an surat an-nisaa’ ayat 9 dan al-Baqarah ayat 266:

٩. وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً 

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.(QS. An-Nisa’ : 9).

٢٦٦. أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَن تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِّن نَّخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاء فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمُ           الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ      

“ Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya”. (QS. Al-Baqarah : 266)

Melalui ayat di atas dapat terlihat bahwa Allah memerintahkan kita untuk bersiap-siap dan mengantisipasi masa depan keturunan, baik secara rohani (iman atau taqwa) maupun secara ekonomi harus difikirkan langkah-langkah perencanaannya, salah satu langkah perencanaannya adalah dengan menabung.[6]

Dalam hadits Nabi SAW banyak disebutkan tentang sikap hemat, Nabi SAW memuji sikap hemat sebagai suatu sikap yang diwarisi oleh para Nabi sebelumnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa bersikap hemat tidak berarti harus kikir dan bakhil. Ada perbedaan besar antara hemat dan kikir atau bakhil.[7]

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULANDeposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian antara nasabah penyimpan dengan bank.deposito syari’ah adalah deposito yang dijalankan berdasarkan prinsip syari’ah. Dalam hal ini dewan syari’ah nasional MUI telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa deposito yang dibenarkan adalah deposito yang berdasarkan prinsip mudharabah.Menurut hukum Islam, mengenai deposito diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syari’at Islam atau deposito yang dilaksanakan berdasarkan prinsip syari’ah, mengingat banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang menjelaskan mengenai persiapan di hari mendatang, dan kegiatan-kegiatan perbankkan yang sebenarnya telah dilaksanakan pada zaman Rasulullah SAW.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s